Tampilkan postingan dengan label legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label legenda. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

misteri goa pindul

Bagi Anda yang mungkin sudah beberapa kali berkunjung ke Obyek wisata Goa Pindul dan mengagumi keindahan alam di dalamnya, mungkin lupa atau belum mendengar tentang misteri dan asal usul goa Pindul, Wisataku.net akan mengungkapnya untuk Anda.
Nama Goa Pindul menurut dongeng yang kami dapatkan berasal dari sebuah kisah perjalanan seorang tokoh jaman dulu yang bernama Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang mendapat perintah dari Panembahan Senopati di kerajaan Mataram untuk membunuh bayi laki laki hasil buah cinta putri Panembahan Senopati yaitu bernama Mangir Wonoboyo.
Dalam perjalanan kedua utusan Panembahan Senopati itu tidak tega untuk membunuh sang bayi, kemudian keduanya pergi kea rah timur yaitu kearah Gunungkidul hingga tibalah di suatu dusun di daerah Karangmojo. Di dusun itu keduanya menggelar tikar untuk alas tidur, dusun tempat menggelar tikar itu kemudian dinamakan Gelaran. Sementara itu sang bayi terus menangis, kedua utusan itu berusaha menenangkannya, karena masih saja rewel, kedua utusan itu berinisiatif memandikannya. Ki Juru Mertani kemudian naik ke salah satu bukit dan menginjak tanah di puncak bukit itu, dengan kesaktianya tanah di bawahnya runtuh dan nampak menganga sebuah lubang yang kelihatan ada aliran air di bawahnya.
Sang bayi lalu di gendhong turun dan di mandikan di dalam goa, disaat di mandikan, pipi sang bayi terbentur (Orang jawa : kebendhul) batu yang ada di dalam goa itu. Karena kejadian itu tempat itu di namakan Goa Pindul. Nah….sudah tahukan asal muasal nama Goa Pindul, jadi Anda sudah tidak penasaran lagi kan…? :)
Obyek Wisata Goa Pindul di resmikan pada tanggal 10 November 2010 oleh Almarhum Bupati Gunungkidul Bapak Sumpeno Putro. Dan sampai sekarang Goa Pindul mempunyai nilai ekonomis bagi warga sekitar karena kunjungan wisatawannya yang selalu membludak.
goa pindul-photo dalam goa
goa pindul-wisatawan berenang
goa pindul-wisatawan ngantri masuk

Author: 

Seorang anak petani desa yang tersesat di dunia maya, kemudian jatuh cinta pada ngeblog dan internet marketing sejak tahun 2008. Tidak ada sesuatu yang istimewa, harapan saya melalui Wisataku.net ini bisa berbagi informasi tentang tempat tempat wisata menarik di Jogja dan sekitarnya.
Sumber: http://wisataku.net/misteri-goa-pindul-terungkap.html

asal usul gunung merapihttp://www.jurirakyat.com/2013/07/legenda-asal-usul-gunung-merapi.html

Seperti yang kita ketahui bersama, gunung merapi merupakan salah satu gunung yang sangat berbahaya karena menurut catatan modern, gunung merapi mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung merapi sudah meletus sebanyak kurang lebih 68 kali.
Hingga akhir tahun 2010 Gunung Merapi kembali meletus dan mengakibatkan ribuan warga mengungsi, ratusan rumah hancur, serta puluhan orang meninggal dunia, termasuk juru kunci gunung merapi yaitu Mbah Maridjan. Sejarah asal usul gunung merapi menurut kalangan penduduk setempat, disana masih mempercayai bahwa Gunung Merapi adalah penjelmaan dari perubahan Gunung Jamurdipo.


Menurut cerita yang beredar di sana, sebagaimana diungkapkan Lucas Sasongko Triyoga dalam bukunya, Manusia Jawa dan Gunung Merapi (Gadjah Mada University Press, 1991), sewaktu Pulau Jawa diciptakan para desa, keadaannya tidak seimbang. Karena miring ke barat. Ini disebabkan di ujung barat terdapat Gunung Jamurdipo.
Atas prakarsa Dewa Krincingwesi, gunung tersebut dipindahkan ke bagian tengah agar terjadi keseimbangan. Pada saat yang bersamaan, di tengah Pulau Jawa terdapat dua empu kakak beradik, yakni Empu Rama dan Permadi. Keduanya tengah membuat keris pusaka Tanah Jawa. Mereka oleh para dewa telah diperingatkan untuk memindahkan kegiatannya tetapi keduanya bersikeras. Mereka tetap akan membuat pusaka di tengah Pulau Jawa. Maka, Dewa Krincingwesi murka. Gunung Jamurdipo kemudian diangkat dan dijatuhkan tepat di lokasi kedua empu itu membuat keris pusaka. Kedua empu itu, akhirnya meninggal. Terkubur hidup-hidup karena kejatuhan Gunung Jamurdipo. Untuk memperingati peristiwa tersebut, Gunung Jamurdipo kemudian diubah menjadi Gunung Merapi. Artinya, tempat perapian Empu Rama dan Permadi. Roh kedua empu itu kemudian menguasai dan menjabat sebagai raja dari segala makhluk halus yang menempati Gunung Merapi.
Mitos tentang asal-usul Gunung Merapi ini ternyata juga muncul dengan versi lain di Korijaya. Menurut cerita yang terjadi di sana, ketika di dunia ini belum terdapat kehidupan manusia kecuali para dewa di Kahyangan, keadaan dunia pada saat itu tidak stabil, miring dan tidak seimbang. Batara Guru lantas memerintahkan para dewa untuk memindahkan Gunung Jamurdipo yang semula terletak di Laut Selatan, agar Pulau Jawa menjadi seimbang. Gunung itulah yang kemudian dijadikan batas utara Jogyakarta. Sebelum Batara Guru memerintahkan para dewa untuk memindahkan gunung itu, Empu Rama dan Permadi diutus membuat keris pusaka Tanah Jawa. Padahal gunung itu akan dipindahkan di tempat kegiatannya. Karena kedua empu itu diperintah Batara Guru, tak maulah mereka pindah dari situ. Sebab, ada sabda pandhita ratu, datan kenging wola-wali. Artinya, perkataan ratu tidak boleh berubah-ubah atau plin-plan.
Maka, terjadilah pertempuran. Empu Rama dan Permadi menang atas dewa-dewa. Mendengar hal itu, Betara Guru lantas memerintahkan Batara Bayu agar kedua empu itu dihukum. Dikubur hidup-hidup karena membangkang Jamurdipo. Akhirnya, menurut mitos itu, Jamurdipo ditiup dari Laut Selatan oleh Batara Bayu dan terbang kemudian jatuh tepat di atas perapian. Kejadian ini akhirnya mengubur mati kedua empu yang dinilai pembangkang itu. Karena dipindahkan ke perapian, maka Gunung Jamurdipo akhirnya dinamakan Gunung Merapi. Kedua empu itu akhirnya menjadi penguasa makhluk halus yang tinggal di Merapi.
Sesudah peristiwa itu, Barata Narada diutus Batara Guru untuk memeriksa Gunung Merapi. Ternyata ia menemukan ular naga yang belum menghadap para dewa karena terhalang air mata gunung yang bernama Cupumanik. Narada kemudian membawa Cupumanik menghadap para dewa. Cupumanik yang menyebabkan semuanya jadi terlambat, akhirnya dihukum mati. Tetapi Batara Guru murka melihat kenyataan, bahwa Cupumanik menggunakan kesaktiannya sehingga hukuman mati itu tak membawa hasil.
Oleh Batara Guru tubuh Cupumanik kemudian diangkat dan dibanting di atas tanduk lembu Andini. Andini adalah kendaraan pribadi Batara Guru. Tubuh Cupumanik hancur lebur, berantakan dan dari tubuhnya muncul seorang putrid cantik. Namanya Dewi Luhwati. Akibat bantingan yang luar biasa itu, salah satu tanduk Andini patah menjadi dua. Sedang kecantikan Dewi Luhwati membuat Batara Guru terpesona dan jatuh cinta.

Tentang asal usul nama Merapi ini, menurut Lucas, terdapat versi lain yang beredar di kalangan abdi dalem khususnya yang melaksanakan upacara Labuhan ke Merapi. Konon, di bumi telah berdiri beberapa kerajaan yang saling berperang. Salah satu kerajaan itu, yakni Mamenang, merupakan kerajaan pemenangnya. Kerajaan itu berada di bawah pimpinan Maharaja Kusumawicitra.
Waktu itu Resi Sengkala atau Jaka Sengkala atau Jitsaka— kalangan umum menyebutnya Ajisaka— telah memberikan nama-nama gunung di seluruh Jawa. Sebelum datang ke Pulau Jawa, sang resi adalah raja yang bertahta di Kerajaan Sumatri. Karena kemenangan Maharaja Kusumawicitra itu, maka segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya diganti namanya disesuaikan dengan kebudayaan Mamenang.
Misalnya nama Gunung Candrageni, yang semua diberi nama Ajisaka, lantas diganti menjadi Gunung Merapi. Begitu pula dengan Gunung Candramuka, diubah menjadi Gunung Merbabu. Sehingga kita mengenal nama Gunung Merapi dan Merbabu. Begitu pula dengan Gunung Wilis, Gunung Sumbing, Gunung Lawu, Gunung Arjuna yang kita kenal sekarang itu adalah nama-nama yang diberikan oleh Maharaja Kusumawicitra.
sumber:

ASAL-USUL LEGENDA RATU PANTAI SELATAN

Kanjeng Ratu Kidul

Di suatu masa, hiduplah
seorang putri cantik
bernama Kadita. Karena
kecantikannya, ia pun
dipanggil Dewi Srengenge
yang berarti matahari yang
indah. Dewi Srengenge
adalah anak dari Raja
Munding Wangi. Meskipun
sang raja mempunyai
seorang putri yang cantik, ia
selalu bersedih karena
sebenarnya ia selalu
berharap mempunyai anak
laki-laki. Raja pun kemudian
menikah dengan Dewi
Mutiara, dan mendapatkan
putra dari perkawinan
tersebut. Maka, bahagialah
sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar
kelak putranya itu menjadi
raja, dan ia pun berusaha
agar keinginannya itu
terwujud. Kemudian Dewi
Mutiara datang menghadap
raja, dan meminta agar sang
raja menyuruh putrinya
pergi dari istana. Sudah
tentu raja menolak. “Sangat
menggelikan. Saya tidak akan
membiarkan siapapun yang
ingin bertindak kasar pada
putriku”, kata Raja Munding
Wangi. Mendengar jawaban
itu, Dewi Mutiara pun
tersenyum dan berkata
manis sampai raja tidak
marah lagi kepadanya. Tapi
walaupun demikian, dia
tetap berniat mewujudkan
keinginannya itu.
Pada pagi harinya, sebelum
matahari terbit, Dewi Mutiara
mengutus pembantunya
untuk memanggil seorang
dukun. Dia ingin sang dukun
mengutuk Kadita, anak
tirinya. “Aku ingin tubuhnya
yang cantik penuh dengan
kudis dan gatal-gatal. Bila
engkau berhasil, maka aku
akan memberikan suatu
imbalan yang tak pernah kau
bayangkan sebelumnya.”
Sang dukun menuruti
perintah sang ratu. Pada
malam harinya, tubuh Kadita
telah dipenuhi dengan kudis
dan gatal-gatal. Ketika dia
terbangun, dia menyadari
tubuhnya berbau busuk dan
dipenuhi dengan bisul. Puteri
yang cantik itu pun
menangis dan tak tahu harus
berbuat apa.
Ketika Raja mendengar kabar
itu, beliau menjadi sangat
sedih dan mengundang
banyak tabib untuk
menyembuhkan penyakit
putrinya. Beliau sadar bahwa
penyakit putrinya itu tidak
wajar, seseorang pasti telah
mengutuk atau mengguna-
gunainya. Masalah pun
menjadi semakin rumit
ketika Ratu Dewi Mutiara
memaksanya untuk
mengusir puterinya.
“Puterimu akan
mendatangkan kesialan bagi
seluruh negeri,” kata Dewi
Mutiara. Karena Raja tidak
menginginkan puterinya
menjadi gunjingan di
seluruh negeri, akhirnya
beliau terpaksa menyetujui
usul Ratu Mutiara untuk
mengirim putrinya ke luar
dari negeri itu.
Puteri yang malang itu pun
pergi sendirian, tanpa tahu
kemana harus pergi. Dia
hampir tidak dapat
menangis lagi. Dia memang
memiliki hati yang mulia. Dia
tidak menyimpan dendam
kepada ibu tirinya, malahan
ia selalu meminta agar Tuhan
mendampinginya dalam
menanggung penderitaan.
Hampir tujuh hari dan tujuh
malam dia berjalan sampai
akhirnya tiba di Samudera
Selatan. Dia memandang
samudera itu. Airnya bersih
dan jernih, tidak seperti
samudera lainnya yang
airnya biru atau hijau. Dia
melompat ke dalam air dan
berenang. Tiba-tiba, ketika
air Samudera Selatan itu
menyentuh kulitnya, mukjizat
terjadi. Bisulnya lenyap dan
tak ada tanda-tanda bahwa
dia pernah kudisan atau
gatal-gatal. Malahan, dia
menjadi lebih cantik
daripada sebelumnya. Bukan
hanya itu, kini dia memiliki
kuasa untuk memerintah
seisi Samudera Selatan. Kini
ia menjadi seorang peri yang
disebut Nyi Roro Kidul atau
Ratu Pantai Samudera
Selatan yang hidup
selamanya.
sumber:
https://id-id.facebook.com/aguscupritt/posts/340276516080149