Senin, 10 Maret 2014

Misteri Tentang Segitiga Masalembo, Perairan Maut di Wilayah Indonesia

Kabar Berita – Segitiga Masalembo adalah segitiga yang serupa dengan segitiga bermuda di kepulauan Bahama. Segitiga Masalembo ini terletak di perairan laut Jawa, tepatnya pertemuan antara laut Jawa dengan selat Makasar. Jika dilihat dari gambar diatas, kepulauan Masalembo ini lebih cenderung ke selat Makasar dibanding dengan laut Jawa.
Beberapa kejadian aneh dan kecelakaan pernah terjadi di daerah segitiga tersebut. Masih ingat peristiwa tenggelamnya kapal Senopati?? KM teratai?? atau yang lebih dahsyat lagi peristiwa hilangnya pesawat Adam Air?? peristiwa2 tersebut terjadi di daerah segitiga maut ini. Bukan baru2 ini saja, dulu pada tanggal 27 Januari 1981 KM Tampomas II terbakar di laut dan karam, lokasi kejadian di segitiga maut ini juga.
“Lokasi kecelakaan KM Teratai sekitar tiga mil dari bibir pantai Majene dan enam mil dari lokasi jatuhnya pesawat Adam Air,” kata Ignatius dalam laporannya kepada Menhub Jusman Syafii Jamal di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Senin (12/1)
Banyaknya kecelakaan dan peristiwa2 aneh lainnya didaerah tersebut membuat daerah segitiga tersebut menjadi daerah terlarang di perairan Indonesia. Sebenarnya apa penyebab dari fenomena segitiga Masalembo ini?
Jika kita lihat dari letak geografisnya, maka didaerah segitiga Masalembo terdapat aliran arus air yang tidak normal. Benturan yang terjadi antara arus laut Jawa (dari barat ke timur), arus laut Flores (dari timur ke barat), ditambah dengan arus selat Makasar yang membelahnya ( dari utara ke selatan) membuat arus didaerah perairan Masalembo menjadi labil.
Kencangnya benturan antara tiga perairan, ditambah dengan terbawanya air laut dingin dari Samudera Pasifik ke Samudera Indonesia (15 juta meterkubik air perdetik) Dan hampir keseluruhannya melalui Selat Makassar, disebut2 sebagai penjelasan yang paling ilmiah yang menyebabkan segitiga ini menjadi daerah terlarang.
Itu dari segi kelautan (arus laut), bagaimana menjelaskan kecelakaan2 udara? apakah hanya kebetulan terjadi di wilayah Masalembo? ataukah wilayah tersebut mempunyai kekuatan misterius seperti bermuda triangle?
Diatas adalah gambar peribahan cuaca dan pergerakan angin di Indonesia. Coba perhatikan ada warna merah campur kuning camur hijau kebiru2an, anehnya warna tersebut berbentuk segitiga (tepat di wilayah segitiga Masalembo). Mungkin ini menunjukkan kalau perubahan cuaca dan pergerakan angin di wilayah segitiga Masalembo sulit diperkirakan (labil) karena merupakan campuran dari tiga warna tadi (sebenarnya saya sendiri kurang begitu paham).
Setidaknya penjelasan2 tersebut sudah mewakili bahwa segitiga Masalembo menjadi terlarang hanya karena faktor alam saja, tidak seperti segitiga bermuda yang penuh dengan kemisteriusan sampai sekarang. Tapi, taukah anda kalau diperairan Masalembo seringkali terjadi keanehan selain kecelakaan?
Menurut kesaksian beberapa orang yang berhasil melewati wilayah segitiga tersebut (ternyata tidak semua berujung kecelakaan) baik dari laut maupun udara, mereka mengatakan melihat penampakan aneh, seperti burung besar, ular laut besar, dll. Mungkinkah burung besar itu pterodactyl? mungkinkah mereka melihat makhluk2 purba? ataukah mereka hanya berhalusinasi atau bahkan berbohong?
Who knows.. yang jelas segitiga Masalembo merupakan fenomena alam menakjubkan yang hanya terdapat diperairan Indonesia.
Sumber : yasirmaster.blogspot.com

Asal Mula Candi Prambanan (Yogyakarta)

    Zaman dahulu ada sebuah kerajaan di Pengging. sang raja mempunyai seorang putera bernama Joko Bandung. Joko bandung adalah seorang pemuda perkasa, seperti halnya sang ayah, ia juga mempunyai berbagai ilmu kesaktian yang tinggi. bahkan konon kesaktiannya lebih tinggi dari ayahnya karena Joko bandung suka berguru kepada para pertapa sakti.

    Di Prambanan terdapat sebuah kerajaan, Rajanya bernama Raja Boko. sang raja mempunyai seorang puteri berwajah cantik bernama Roro Jongrang. Raja Boko bertubuh tingggi besar sehingga sebagian besar orang menganggapnya sebagai keturunan raksasa.
    Antara Kerajaan pengging dan Kerajaan prambanan terjadi peperangan. Pada mulanya Raja pengging kalah. tentara Pengging banyak yang mati di medan perang.
    Mendengar kekalahan pasukan ayahnya maka Joko Bandung bertekad menyusul pasukan ayahnya. dalam perjalanan, di tengah hutan, Joko Bandung bertemu dan berkelahi dengan seorang raksasa bernama Bandawasa. Menjelang ajal Bandawasa yang juga berilmu tinggi ini ternyata menyusup ke dalam roh Joko Bandung dan minta namanya digabung dengan pemuda itu sehingga putera Raja Pengging ini bernama Joko Bandung Bandawasa.
Joko bandung maju ke medan perang, selama berhari-hari pertarungan berlangsung, namun pada akhirnya pemuda itu dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Boko.
    Ketika Joko Bandung memasuki istana kaputren ia melihat Roro Jonggrang yang cantik jelita, Joko Bandung langsung jatuh cinta dan ingin memperisterinya, Namun Roro Jonggrang berusaha mengelak keingginannya karena Roro Jonggrang tahu bahwa pembunuh ayahnya adalaj Joko Bandung.
    Namun untuk menolak begitu saja tentu Roro jonggrang tidak berani, maka Roro Jonggrang mengajukan syarat, ia mau diperisteri oleh Joko Bandung asalkan Pemuda itu bersedia membuatkan seribu candi dan dua buah sumur yang sangat dalam dalam waktu satu malam.
    Menurut anggapan Roro Jonggrang pasti Joko Bandung tidak mungkin dapat memenuhi permintaan tersebut. Diluar dugaan Joko Bandung menyanggupinya. Joko Bandung Bandawasa yang sakti itu minta bantuan makhluk halus. Mereka bekerja keras setelah matahari terbenam, dan satu persatu candi yang diminta oleh Roro Jonggrang mendekati penyelesaian.
    Melihat kejadian tersebut, Roro Jonggrang heran karena bangunan candi yang begitu banyak sudah hampir selesai. Pada tengah malam sewaktu makhluk halus melanjutkan tugas menyelesaikan bangunan candi yang tinggal sebuah, Roro Jonggrang membangunkan gadis-gadis desa Prambanan agar menumbuk padi sambil memukul-mukulkan alu pada lesungsehingga kedengaran suara yang riuh. Ayam jantanpun berkokok bersahut-sahutan. Mendengar suara-suara tersebut, para makhluk halus segera menghentikan pekerjaannya. Disangkanya hari telah pagi dan matahari hampir terbit. 
    Permintaan Roro Jonggrang tidak dapat terpenuhi karena masih kurang satu bangunan candi. marahlah Joko Bandung, karena ulah dan tipu muslihat dari Roro Jonggrang.
    Waktu itulah Bandung mendekati Jonggrang dan berkata," Jonggrang..kau ini hanya mencari-cari alasan, kalau tidak mau jangan mencoba mengelabuhiku, kau ini keras kepala seperti batu!".
Seketika Roro Jonggrang berubah menjadi arca batu besar. Demikian pula para dara yang tinggal di desa Prambanan mendapat kutukan dari Bandung Bandawasa, tidak laku kawin sebelum mencapai usia tua.
    Candi yang dibuat makhluk halus meskipun jumlahnya belum mencapai seribu disebut candi sewu yang berdekatan dengan candi Roro Jonggrang. Maka candi Prambanan disebut juga candi Roro Jonggrang.
Sumber: http://cerita-dan-dongeng.blogspot.com/2011/09/asal-mula-candi-roro-jongrang.html

MISTERI GEDUNG LAWANG SEWU


Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945) di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Kisah Mistis Gedung Lawang Sewu

Cerita horor Lawang Sewu sudah menjadi legenda bagi masyarakat Semarang dan Jawa Tengah. Apalagi, ketika salah satu acara mistik di televisi swasta menjadikan gedung tua tersebut sebagai lokasi uji nyali untuk penonton. Kisah tentang bangunan milik PT. Kereta Api Indonesia itu pun makin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Inilah yang menjadikan cerita horor Lawang Sewu diangkat ke layar lebar pada tahun 2007. Dalam legenda Lawang Sewu, banyak terdengar cerita mistis yang menyeramkan. Hal ini terkait dengan sejarah Lawang Sewu yang pernah menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Khususnya, pernah menjadi tempat penahanan dan penyiksaan para pejuang Indonesia.

Salah seorang penjaga gedung, Soeranto mengaku sudah bertahun- tahun tinggal di pelataran gedung Lawang Sewu. Selama itu pula, Soeranto mengaku sudah tidak terhitung lagi berapa kali dia mengalami kejadian- kejadian aneh jika malam hari. Aneka rupa dan bentuk makhluk gaib menunggu gedung sudah pernah dia pergoki. Sejauh itu, berkat pengabdian Soeranto untuk menjaga gedung, dia tidak pernah gentar menghadapi lelembut penghuni setempat.

"Macam-macam wujud jelmaan penunggu sini (Lawang Sewu, red) pernah saya temui. Mulai wujudnya yang seram, begis, sampai yang lucu- lucu," aku Soeranto. Sampai-sampai mengenai prilaku para lelembut setempat Soeranto sangat hafal betul. Termasuk ketika akan memunculkan bentuk aslinya, ada tanda-tanda khusus yang lebih dulu disampaikan para lelembut. "Biasanya ada yang diawali dengan hembusan angin agak kencang, semilir, sampai ada yang mengeluarkan bau-bauan. Ada yang bau wangi, bau menyan, bahkan ada yang mengeluarkan bau agak busuk," tandasnya.

Kemunculan makhluk halus ditengarai adalah arwah tentara Belanda dan Jepang itu masing- masing punya daerah kekuasaan sendiri-sendiri. Seperti di pintu depan paling barat, menurut Soeranto disitu diperkirakan dikuasai oleh sosok hantu tentara Belanda. Setiap kali muncul lelembut yang dicurigai sebagai arwah orang Belanda ini selalu mengenakan pakaian seragam serdadu lengkap dengan senapan laras panjang. Ada yang berada di pintu belakang paling timur. Termasuk menempati beberapa pintu kamar, dan ruang di lantai dua. Lain lagi di salah satu ruang paling depan yang ditengarai dulunya menjadi pos penjagaan tentara, di sekitar tempat itu dikuasai oleh sosok lelembut yang berwujud serdadu Jepang.

Khusus makhluk gaib yang satu ini, menurut Soeranto terlihat bengis dan kejam. Kumisnya panjang melintang dengan ke mana-mana selalu membawa sebilah samurai panjang. Meski berbeda wilayah kekuasaan, tidak pernah ada kejadian keributan atau semacam pertanda adanya ontran-ontran di alam gaib antar penunggu Lawang Sewu itu. Semua selalu tenang, dan kemunculannya pun selalu pada tempat yang sama. Tidak berebutan. Mungkin saja karena sosok-sosok itu sering kali muncul dan bertemu dengan Soeranto, hingga kesannya sangat akrab.

"Cuma kalau berdialog langsung dengan mereka belum pernah. Di samping saya sendiri tidak mengerti bahasa mereka," aku Soeranto. Paling mendebarkan menurut Soeranto, tiap malam Jumat Kliwon arwah-arwah setempat sering kali menampakkan wujud aslinya. Mereka bergentayangan, bermunculan, hingga membuat suasana malam seperti ramai orang-orang bercengkerama. Cuma paling menakutkan lagi, adalah jeritan-jeritan suara perempuan dari dalam gedung. Diperkirakan jeritan itu berasal dari jerit nonik-nonik Belanda. Bahkan, setiap muncul jeritan pasti disusul suara derap sepatu lars tentara Belanda dan Jepang. Sepertinya arwah mereka kompak, namun suara jeritan itu diperkirakan jeritan noni Belanda yang ketakutan ketika melihat aksi pembantaian Jepang terhadap tentara Belanda.

Konon, banyak tentara Belanda yang tewas disembelih tentara Jepang. Sehingga suara jeritan itu kadang disusul jeritan tentara Belanda yang kesakitan. Sementara jika mendongakkan kepala ke atas gedung, nampak ada sebuah tondon air yang dulunya difungsikan untuk menyimpan air bersih. Sedangkan di sekitarnya, tepatnya di depan halaman gedung ada sebuah sumur tua yang setiap harinya selalu dikunci rapat-rapat. Bentuk sumur tersebut temboknya meninggi dari dasar tanah dan diberi atap genting warna merah. Di situlah paling sering terdengar tangisan nonik- nonik Belanda dan Jepang.

Namun, dari sekian banyaknya mahkluk halus yang menjaga gedung lawang sewu tersebut, menurut beberapa paranormal asal Semarang tidak akan mengganggu masyarakat apabila nekad masuk ke dalam gedung. "Dulu ada paranormal yang menerawang penghuni sini. Katanya, jumlah mereka sekitar 50 makhluk halus," imbuhnya. Sejak didirikan ratusan tahun lalu, gedung spektakuler peninggalan pemerintahan Belanda macam Lawang Sewu Semarang masih tetap menyimpan misteri.

Kisah-kisah yang terdengar di Lawang Sewu sangat beragam. Banyak pengunjung yang mengaku melihat atau sekedar merasakan sesuatu yang berbeda ketika masuk ruangan tertentu di sana. Di antara beberapa kisah yang cukup menonjol dan sering terdengar adalah :

* Penampakan wanita berambut panjang. Tentang kisah ini, pernah terekam dalam kamera infra merah saat digelar acara uji nyali melalui program reality show salah satu televisi swasta. Dalam tayangan tersebut, sosok perempuan berambut panjang tersebut nampak terekam dengan jelas oleh kamera.

* Bayangan yang menggantung di langit-langit sebuah ruangan yang ada di lantai tiga. Konon, penampakan ini bisa dipanggil oleh sang juru kunci Lawang Sewu melalui kode tertentu. Namun tidak semua pengunjung yang datang akan diajak masuk ke ruangan tersebut.

* Penampakan prajurit Belanda yang berbaris. Kisah yang berkembang, penampakan prajurit ini hanya muncul pada malam tertentu saja. Biasanya muncul di lapangan yang berada di tengah gedung Lawang Sewu.

* Aroma aneh yang muncul di ruang penyiksaan yang berada di lantai bawah tanah. Di sana muncul lokasi yang dikenal sebagai sel berdiri, yaitu sebuah ruangan kecil berukuran 1 x 1 m.
Gedung Lawang Sewu yang Angker Akan Dipugar jadi Gedung Serbaguna

PT Kereta Api Indonesia (KAI) sedang giat-giatnya memberdayakan aset-aset milik mereka yang selama ini terlantar. Salah satu aset milik PT KAI yang kini sudah direvitalisasi adalah Gedung Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah.

BUMN kereta api ini mencoba mengubah kesan angker yang selama ini sudah mengakar di gedung peninggalan Belanda tersebut. Kini proses revitalisasi Lawang Sewu sudah mulai tahap akhir, akan seperti apakah Lawang Sewu.

"Ini dikembangkan bukan oleh anak usaha, tapi kami sendiri, Lawang Sewu bisa untuk function, multi function," kata Dirut KAI Ignasius Jonan.

Selama ini beberapa acara komersil sudah banyak digelar di area Lawang Sewu, misalnya acara galeri seni, acara korporat bidang otomotif dan lain-lain. Secara perlahan, Lawang Sewu akan memberikan kontribusi pendapatan bagi PT KAI.

"Untuk pendapatannya untuk merawat Lawang Sewu, ini dibuat multi function, untuk galeri seni, untuk wisata malam dan lain-lain," kata Jonan.
Sumber: https://id-id.facebook.com/salprom/posts/424258597636035

Sejarah Asal Mula Candi Borobudur

Sejarah Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja dan termasuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama candi ini. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi/di atas”.

Versi kedua mengatakan bahwa nama Sejarah Candi Borobudur kemungkinan berasal dari kata “sambharabudhara” yang berarti “gunung yang lerengnya berteras-teras”. Versi ketiga yang ditafsirkan oleh Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata “bhoro” yang berarti “biara” atau “asrama” dan “budur” yang berarti “di atas”.

Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G. de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat pemujaan bagi arwah nenek moyang”.


Masih berdasarkan prasasti Karang Tengah dan ditambah dengan prasasti Kahuluan, J.G. de Casparis dalam disertasinya tahun 1950 mengatakan bahwa Sejarah Candi Borobudur diperkirakan didirikan oleh Raja Samaratungga dari wangsa Sayilendra sekitar tahun Sangkala rasa sagara kstidhara atau tahun Caka 746 (824 Masehi) dan baru dapat diselesaikan oleh puterinya yang bernama Dyah Ayu Pramodhawardhani pada sekitar tahun 847 Masehi. Pembuatan candi ini menurut prasasti Klurak (784 M) dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya dan seorang pangeran dari Kashmir yang bernama Visvawarma.

Versi Lainnya

Asal Usul Sejarah Borobudur – Candi borobudur merupakan salah satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800-an Masehi oleh para penganut agama Buddha Wahayana. Dalam sejarah candi borobudur, terdapat berbagai teori yang menjelaskan asal usul nama candi borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama borobudur kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara yang artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras.


Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.


Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M.


Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çr? Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kam?l?n yang disebut Bh?misambh?ra. Istilah Kam?l?n sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bh?mi Sambh?ra Bhudh?ra dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.



Letak candi ini diatas perbukitan yang terletak di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang atau 42 km sebelah laut kota Yogyakarta. Dikelilingi Bukit Manoreh yang membujur dari arah timur ke barat. Sementara di sebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbau, serta disebelah barat ada Gunumg Sindoro dan Gunung Sumbing.


Dibutuhkan tak kurang dari 2 juta balok batu andesit atau setara dengan 50.000m persegi untuk membangun Candi Borobudur ini. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton. Seperti umumnya bangunan candi, Bororbudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki, badan dan atas. Bangunan kaki disebut Kamadhatu, yang menceritakan tentang kesadaran yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Kemudian Ruphadatu, yang bermakna sebuah tingkatan kesadaran manusia yang masih terikat hawa nafsu, materi dan bentuk. Sedangkan Aruphadatu yang tak lagi terikat hawa nafsu, materi dan bentuk digambarkan dalam bentuk stupa induk yang kosong. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan

sumber http://gobanblog.blogspot.com/2011/1...borobudur.html

misteri goa pindul

Bagi Anda yang mungkin sudah beberapa kali berkunjung ke Obyek wisata Goa Pindul dan mengagumi keindahan alam di dalamnya, mungkin lupa atau belum mendengar tentang misteri dan asal usul goa Pindul, Wisataku.net akan mengungkapnya untuk Anda.
Nama Goa Pindul menurut dongeng yang kami dapatkan berasal dari sebuah kisah perjalanan seorang tokoh jaman dulu yang bernama Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang mendapat perintah dari Panembahan Senopati di kerajaan Mataram untuk membunuh bayi laki laki hasil buah cinta putri Panembahan Senopati yaitu bernama Mangir Wonoboyo.
Dalam perjalanan kedua utusan Panembahan Senopati itu tidak tega untuk membunuh sang bayi, kemudian keduanya pergi kea rah timur yaitu kearah Gunungkidul hingga tibalah di suatu dusun di daerah Karangmojo. Di dusun itu keduanya menggelar tikar untuk alas tidur, dusun tempat menggelar tikar itu kemudian dinamakan Gelaran. Sementara itu sang bayi terus menangis, kedua utusan itu berusaha menenangkannya, karena masih saja rewel, kedua utusan itu berinisiatif memandikannya. Ki Juru Mertani kemudian naik ke salah satu bukit dan menginjak tanah di puncak bukit itu, dengan kesaktianya tanah di bawahnya runtuh dan nampak menganga sebuah lubang yang kelihatan ada aliran air di bawahnya.
Sang bayi lalu di gendhong turun dan di mandikan di dalam goa, disaat di mandikan, pipi sang bayi terbentur (Orang jawa : kebendhul) batu yang ada di dalam goa itu. Karena kejadian itu tempat itu di namakan Goa Pindul. Nah….sudah tahukan asal muasal nama Goa Pindul, jadi Anda sudah tidak penasaran lagi kan…? :)
Obyek Wisata Goa Pindul di resmikan pada tanggal 10 November 2010 oleh Almarhum Bupati Gunungkidul Bapak Sumpeno Putro. Dan sampai sekarang Goa Pindul mempunyai nilai ekonomis bagi warga sekitar karena kunjungan wisatawannya yang selalu membludak.
goa pindul-photo dalam goa
goa pindul-wisatawan berenang
goa pindul-wisatawan ngantri masuk

Author: 

Seorang anak petani desa yang tersesat di dunia maya, kemudian jatuh cinta pada ngeblog dan internet marketing sejak tahun 2008. Tidak ada sesuatu yang istimewa, harapan saya melalui Wisataku.net ini bisa berbagi informasi tentang tempat tempat wisata menarik di Jogja dan sekitarnya.
Sumber: http://wisataku.net/misteri-goa-pindul-terungkap.html

asal usul gunung merapihttp://www.jurirakyat.com/2013/07/legenda-asal-usul-gunung-merapi.html

Seperti yang kita ketahui bersama, gunung merapi merupakan salah satu gunung yang sangat berbahaya karena menurut catatan modern, gunung merapi mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung merapi sudah meletus sebanyak kurang lebih 68 kali.
Hingga akhir tahun 2010 Gunung Merapi kembali meletus dan mengakibatkan ribuan warga mengungsi, ratusan rumah hancur, serta puluhan orang meninggal dunia, termasuk juru kunci gunung merapi yaitu Mbah Maridjan. Sejarah asal usul gunung merapi menurut kalangan penduduk setempat, disana masih mempercayai bahwa Gunung Merapi adalah penjelmaan dari perubahan Gunung Jamurdipo.


Menurut cerita yang beredar di sana, sebagaimana diungkapkan Lucas Sasongko Triyoga dalam bukunya, Manusia Jawa dan Gunung Merapi (Gadjah Mada University Press, 1991), sewaktu Pulau Jawa diciptakan para desa, keadaannya tidak seimbang. Karena miring ke barat. Ini disebabkan di ujung barat terdapat Gunung Jamurdipo.
Atas prakarsa Dewa Krincingwesi, gunung tersebut dipindahkan ke bagian tengah agar terjadi keseimbangan. Pada saat yang bersamaan, di tengah Pulau Jawa terdapat dua empu kakak beradik, yakni Empu Rama dan Permadi. Keduanya tengah membuat keris pusaka Tanah Jawa. Mereka oleh para dewa telah diperingatkan untuk memindahkan kegiatannya tetapi keduanya bersikeras. Mereka tetap akan membuat pusaka di tengah Pulau Jawa. Maka, Dewa Krincingwesi murka. Gunung Jamurdipo kemudian diangkat dan dijatuhkan tepat di lokasi kedua empu itu membuat keris pusaka. Kedua empu itu, akhirnya meninggal. Terkubur hidup-hidup karena kejatuhan Gunung Jamurdipo. Untuk memperingati peristiwa tersebut, Gunung Jamurdipo kemudian diubah menjadi Gunung Merapi. Artinya, tempat perapian Empu Rama dan Permadi. Roh kedua empu itu kemudian menguasai dan menjabat sebagai raja dari segala makhluk halus yang menempati Gunung Merapi.
Mitos tentang asal-usul Gunung Merapi ini ternyata juga muncul dengan versi lain di Korijaya. Menurut cerita yang terjadi di sana, ketika di dunia ini belum terdapat kehidupan manusia kecuali para dewa di Kahyangan, keadaan dunia pada saat itu tidak stabil, miring dan tidak seimbang. Batara Guru lantas memerintahkan para dewa untuk memindahkan Gunung Jamurdipo yang semula terletak di Laut Selatan, agar Pulau Jawa menjadi seimbang. Gunung itulah yang kemudian dijadikan batas utara Jogyakarta. Sebelum Batara Guru memerintahkan para dewa untuk memindahkan gunung itu, Empu Rama dan Permadi diutus membuat keris pusaka Tanah Jawa. Padahal gunung itu akan dipindahkan di tempat kegiatannya. Karena kedua empu itu diperintah Batara Guru, tak maulah mereka pindah dari situ. Sebab, ada sabda pandhita ratu, datan kenging wola-wali. Artinya, perkataan ratu tidak boleh berubah-ubah atau plin-plan.
Maka, terjadilah pertempuran. Empu Rama dan Permadi menang atas dewa-dewa. Mendengar hal itu, Betara Guru lantas memerintahkan Batara Bayu agar kedua empu itu dihukum. Dikubur hidup-hidup karena membangkang Jamurdipo. Akhirnya, menurut mitos itu, Jamurdipo ditiup dari Laut Selatan oleh Batara Bayu dan terbang kemudian jatuh tepat di atas perapian. Kejadian ini akhirnya mengubur mati kedua empu yang dinilai pembangkang itu. Karena dipindahkan ke perapian, maka Gunung Jamurdipo akhirnya dinamakan Gunung Merapi. Kedua empu itu akhirnya menjadi penguasa makhluk halus yang tinggal di Merapi.
Sesudah peristiwa itu, Barata Narada diutus Batara Guru untuk memeriksa Gunung Merapi. Ternyata ia menemukan ular naga yang belum menghadap para dewa karena terhalang air mata gunung yang bernama Cupumanik. Narada kemudian membawa Cupumanik menghadap para dewa. Cupumanik yang menyebabkan semuanya jadi terlambat, akhirnya dihukum mati. Tetapi Batara Guru murka melihat kenyataan, bahwa Cupumanik menggunakan kesaktiannya sehingga hukuman mati itu tak membawa hasil.
Oleh Batara Guru tubuh Cupumanik kemudian diangkat dan dibanting di atas tanduk lembu Andini. Andini adalah kendaraan pribadi Batara Guru. Tubuh Cupumanik hancur lebur, berantakan dan dari tubuhnya muncul seorang putrid cantik. Namanya Dewi Luhwati. Akibat bantingan yang luar biasa itu, salah satu tanduk Andini patah menjadi dua. Sedang kecantikan Dewi Luhwati membuat Batara Guru terpesona dan jatuh cinta.

Tentang asal usul nama Merapi ini, menurut Lucas, terdapat versi lain yang beredar di kalangan abdi dalem khususnya yang melaksanakan upacara Labuhan ke Merapi. Konon, di bumi telah berdiri beberapa kerajaan yang saling berperang. Salah satu kerajaan itu, yakni Mamenang, merupakan kerajaan pemenangnya. Kerajaan itu berada di bawah pimpinan Maharaja Kusumawicitra.
Waktu itu Resi Sengkala atau Jaka Sengkala atau Jitsaka— kalangan umum menyebutnya Ajisaka— telah memberikan nama-nama gunung di seluruh Jawa. Sebelum datang ke Pulau Jawa, sang resi adalah raja yang bertahta di Kerajaan Sumatri. Karena kemenangan Maharaja Kusumawicitra itu, maka segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya diganti namanya disesuaikan dengan kebudayaan Mamenang.
Misalnya nama Gunung Candrageni, yang semua diberi nama Ajisaka, lantas diganti menjadi Gunung Merapi. Begitu pula dengan Gunung Candramuka, diubah menjadi Gunung Merbabu. Sehingga kita mengenal nama Gunung Merapi dan Merbabu. Begitu pula dengan Gunung Wilis, Gunung Sumbing, Gunung Lawu, Gunung Arjuna yang kita kenal sekarang itu adalah nama-nama yang diberikan oleh Maharaja Kusumawicitra.
sumber:

ASAL-USUL LEGENDA RATU PANTAI SELATAN

Kanjeng Ratu Kidul

Di suatu masa, hiduplah
seorang putri cantik
bernama Kadita. Karena
kecantikannya, ia pun
dipanggil Dewi Srengenge
yang berarti matahari yang
indah. Dewi Srengenge
adalah anak dari Raja
Munding Wangi. Meskipun
sang raja mempunyai
seorang putri yang cantik, ia
selalu bersedih karena
sebenarnya ia selalu
berharap mempunyai anak
laki-laki. Raja pun kemudian
menikah dengan Dewi
Mutiara, dan mendapatkan
putra dari perkawinan
tersebut. Maka, bahagialah
sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar
kelak putranya itu menjadi
raja, dan ia pun berusaha
agar keinginannya itu
terwujud. Kemudian Dewi
Mutiara datang menghadap
raja, dan meminta agar sang
raja menyuruh putrinya
pergi dari istana. Sudah
tentu raja menolak. “Sangat
menggelikan. Saya tidak akan
membiarkan siapapun yang
ingin bertindak kasar pada
putriku”, kata Raja Munding
Wangi. Mendengar jawaban
itu, Dewi Mutiara pun
tersenyum dan berkata
manis sampai raja tidak
marah lagi kepadanya. Tapi
walaupun demikian, dia
tetap berniat mewujudkan
keinginannya itu.
Pada pagi harinya, sebelum
matahari terbit, Dewi Mutiara
mengutus pembantunya
untuk memanggil seorang
dukun. Dia ingin sang dukun
mengutuk Kadita, anak
tirinya. “Aku ingin tubuhnya
yang cantik penuh dengan
kudis dan gatal-gatal. Bila
engkau berhasil, maka aku
akan memberikan suatu
imbalan yang tak pernah kau
bayangkan sebelumnya.”
Sang dukun menuruti
perintah sang ratu. Pada
malam harinya, tubuh Kadita
telah dipenuhi dengan kudis
dan gatal-gatal. Ketika dia
terbangun, dia menyadari
tubuhnya berbau busuk dan
dipenuhi dengan bisul. Puteri
yang cantik itu pun
menangis dan tak tahu harus
berbuat apa.
Ketika Raja mendengar kabar
itu, beliau menjadi sangat
sedih dan mengundang
banyak tabib untuk
menyembuhkan penyakit
putrinya. Beliau sadar bahwa
penyakit putrinya itu tidak
wajar, seseorang pasti telah
mengutuk atau mengguna-
gunainya. Masalah pun
menjadi semakin rumit
ketika Ratu Dewi Mutiara
memaksanya untuk
mengusir puterinya.
“Puterimu akan
mendatangkan kesialan bagi
seluruh negeri,” kata Dewi
Mutiara. Karena Raja tidak
menginginkan puterinya
menjadi gunjingan di
seluruh negeri, akhirnya
beliau terpaksa menyetujui
usul Ratu Mutiara untuk
mengirim putrinya ke luar
dari negeri itu.
Puteri yang malang itu pun
pergi sendirian, tanpa tahu
kemana harus pergi. Dia
hampir tidak dapat
menangis lagi. Dia memang
memiliki hati yang mulia. Dia
tidak menyimpan dendam
kepada ibu tirinya, malahan
ia selalu meminta agar Tuhan
mendampinginya dalam
menanggung penderitaan.
Hampir tujuh hari dan tujuh
malam dia berjalan sampai
akhirnya tiba di Samudera
Selatan. Dia memandang
samudera itu. Airnya bersih
dan jernih, tidak seperti
samudera lainnya yang
airnya biru atau hijau. Dia
melompat ke dalam air dan
berenang. Tiba-tiba, ketika
air Samudera Selatan itu
menyentuh kulitnya, mukjizat
terjadi. Bisulnya lenyap dan
tak ada tanda-tanda bahwa
dia pernah kudisan atau
gatal-gatal. Malahan, dia
menjadi lebih cantik
daripada sebelumnya. Bukan
hanya itu, kini dia memiliki
kuasa untuk memerintah
seisi Samudera Selatan. Kini
ia menjadi seorang peri yang
disebut Nyi Roro Kidul atau
Ratu Pantai Samudera
Selatan yang hidup
selamanya.
sumber:
https://id-id.facebook.com/aguscupritt/posts/340276516080149